Data Ekonomi AS Bervariasi, Harga Emas Menguat

pt solid gold

Harga emas menguat seiring transaksi perdagangan positif selama sepekan. Ditambah rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS) bervariasi.

Seperti diketahui, data ekonomi AS positif dapat dorong bank sentral AS atau the Federal Reserve kembali perketat kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga.

Rilis data ekonomi keluar antara lain, data pesanan barang tahan lama naik 1,3 persen pada November 2017. Sementara itu, konsumsi melompat pada November. Diikuti penjualan rumah baru menguat 17,5 persen pada November. Diperkirakan capai 733 ribu, di atas perkiraan pasar 658 ribu.

Sementara itu, indeks harga PCE naik menjadi 1,8 persen dari Oktober di kisaran 1,6 persen. Inflasi inti di luar harga makanan dan energi menguat 0,1 persen. Penguatan itu dorong secara tahunan, inflasi menjadi 1,5 persen pada November.

Harga emas untuk pengiriman Februari naik US$ 8,2 atau 0,6 persen ke posisi US$ 1.278,80 per ounce.

“Secara teknikal harga emas berjangka masih cenderung tertekan seiring aksi ambil untung dalam jangka pendek. Namun harga emas sudah berada di bawah. Secara teknikal mendorong harga emas berada di level resistance US$ 1.300,” ujar Analis Kitco.com Jim Wyckoff, seperti dikutip laman Marketwatch, Sabtu (23/12/2017).

Harga emas naik 1,7 persen selama sepekan. Sedangkan sepanjang 2017, harga emas sudah naik 11 persen.

Harga emas mampu menguat di tengah indeks dolar AS naik 0,1 persen ke posisi 93,36. Sedangkan harga saham secara mingguan menguat usai pembuat kebijakan di AS menyetujui anggaran pemerintah. Adapun pergerakan harga emas turut dipengaruhi pergerakan nilai tukar dolar AS. Dua aset ini biasanya cenderung berlawanan.

Imbal hasil surat berharga AS bertenor 10 tahun sedikit berubah menjadi 2,48 persen. Sebelumnya imbal hasil surat berharga AS naik ke level tertinggi selama sembilan bulan. Hal itu seiring optimisme pertumbuhan ekonomi usai reformasi pajak AS disetujui.

Harga komoditas lainnya yang menguat yaitu harga perak naik 1,2 persen menjadi US$ 16,44 per ounce, harga tembaga naik 0,6 persen menjadi US$ 3,2 per pound.

Wall Street Melemah Jelang Libur Natal

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street tergelincir sebelum masa libur Natal. Penurunan wall street didorong tertekannya saham unggulan termasuk saham Nike.

Pada penutupan perdagangan saham Jumat (Sabtu pagi WIB), indeks saham Dow Jones turun 36,02 poin atau 0,15 persen ke posisi 24.746,27. Indeks saham S&P 500 melemah tipis 1,9 poin atau 0,07 persen ke posisi 2.682,67. Indeks saham Nasdaq tergelincir 6,03 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.959,33.

Selama sepekan, indeks saham Dow Jones naik 0,4 persen, indeks saham S&P 500 menguat 0,29 persen. Indeks saham Nasdaq bertambah 0,34 persen.

Transaksi perdagangan saham juga cenderung tipis jelang liburan Natal. Bursa saham akan tutup untuk peringati Natal.

“Ini minggu yang kuat. Apakah pasar sedikit naik dan turun setidaknya menunjukkan tren lebih besar. Sangat mudah untuk mendongkrak harga ketika tidak banyak orang melakukan perdagangan,” jelas Mark Lushini, Chief Investment Strategist Janney Montgomery Scott, seperti dikutip dari laman Reuters, Sabtu pekan ini.

Sebelumnya, wall street menguat juga diukung pelaksanaan reformasi pajak AS. Presiden AS Donald Trump menandatangani perombakan pajak sebesar US$ 1,15 triliun. Rancangan Undang-Undang (RUU) pajak itu sudah disetujui termasuk anggran pemerintah dalam jangka pendek yang mencegah penutupan operasional pemerintah.

Untuk perdagangan bitcoin, nilai bitcoin turun di bawah US$ 12.000. Ini berdampak terhadap saham perusahaan yang membawahi transaksi mata uang digital di wall street melemah. Saham Long Blockchain Corp, Overstock Com, Riot Blockchain Inc, dan Marathon Patent Group Inc turun antara 2-15 persen.

Dari rilis data ekonomi menunjukkan belanja konsumen Amerika Serikat meningkat pada November. Diikuti pengiriman pesanan barang modal utama.

“Data ini relatif bervariasi namun bias. Sentimen konsumen terus menguat dan menjadi pertanda baik bagi kekuatan ekonomi pada 2018,” ujar Matthew Miskin, Market Strategist John Hancok Investments.

Sektor saham properti catatkan penguatan, dan memimpin kenaikan di indeks saham S&P 500. Sektor saham properti naik 0,7 persen. Di sisi saham sektor saham kesehatan turun 0,4 persen. Saham Celgene Corp melemah 1,9 persen. Volume perdagangan saham sekitar 4,81 miliar saham. Angka ini di bawah rata-rata perdagangan saham 6,98 miliar saham.