Gunung Agung Erupsi, OJK Relaksasi Perbankan Bali

pt solid gold

Perekonomian di Bali yang sempat terguncang akibat erupsi Gunung Agung membuat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan mengeluarkan kebijakan relaksasi bidang keuangan dan perbankan.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyatakan, banyak debitur yang berharap bank dapat memberi keringanan atas pinjaman pokok dan bunga bank.

”OJK akan mengantisipasi hal ini dengan kebijakan yang terukur untuk menjaga ekonomi Bali agar kondusif. Terutama karena ketergantungan dari sektor pariwisata,” kata Wimboh, Selasa (26/12).

Dia tidak menjelaskan secara spesifik kebijakan yang dimaksud.

Namun, dengan kebijakan tersebut, perbankan bakal merespons bentuk restrukturisasi sesuai dengan kondisi masing-masing bank.

Restrukturisasi tersebut juga mempertimbangkan kondisi masing-masing debitor.

Aturan itu dibuat untuk menyikapi dampak atas kondisi daerah yang terkena bencana alam.

”Saat ini OJK, mengidentifikasi kebutuhan perumusan kebijakan terkait dampak Gunung Agung pada penanganan debitor dan perbankan di Bali,” jelasnya.

Di luar kebijakan itu, Wimboh mendukung pemerintah untuk mengampanyekan bahwa Bali aman sebagai lokasi event.

Baik berskala nasional maupun internasional. Wimboh merupakan mantan direktur eksekutif Dana Moneter Internasional (IMF) yang mendorong Balimenjadi tuan rumah pertemuan tahunan IMF & World Bank pada Oktober 2018.

Sementara itu, Wakil Gubernur Provinsi Bali I Ketut Sudikerta mengungkapkan pemda berupaya mengikis persepsi negatif.

Sebab, publik menganggap seolah-olah seluruh Bali terdampak erupsi Gunung Agung.

Padahal, wilayah yang terdampak sangat terbatas. Yakni, maksimal radius sepuluh km dari puncak Gunung Agung.

”Setelah kedatangan Presiden Jokowi dan liburan Natal, ada peningkatan okupansi hotel,” kata Ketut.