Kebijakan Suku Bunga Bakal Dipengaruhi Dolar AS

pt solid gold

Kebijakan suku bunga nasional mendatang dinilai sangat dipengaruhi nilai penguatan mata uang dolar Amerika Serikat yang juga dipengaruhi kebijakan yang dikeluarkan oleh “The Federal Reserve” atau bank sentral AS.

“DBS Group Research memprediksi Bank Indonesia akan mulai menaikkan suku bunga di kuartal IV tahun 2018,” kata Ekonom DBS Gundy Cahyadi di Jakarta.

Menurut dia, diperkirakan tingkat kenaikannya akan kembali menjadi sekitar lima persen pada pertengahan tahun 2019 mendatang, mengingat antisipasi penguatan mata uang dolar AS yang akan membutuhkan suku bunga domestik lebih tinggi.

Research Analyst FXTM Lukman Otunuga menyatakan pasar finansial menyoroti kebijakan Bank Indonesia yang tetap mempertahankan tingkat suku bunga acuan dengan berada di level 4,25 persen. “Reaksi pasar finansial Indonesia relatif tidak bersemangat setelah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 4,25 persen,” kata Lukman Otunuga.

Menurut dia, pilihan tersebut terkait dengan upaya BI yang berusaha mempertahankan stabilitas finansial menjelang keputusan tingkat suku bunga Amerika Serikat yang diprediksi bakal meningkat pada bulan Desember 2017.

Poin penting dari rapat yang telah digelar BI adalah terkait dengan revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi 2017 menjadi 5,1 persen. “Konsumsi Indonesia berpotensi menguat pada kuartal terakhir 2017 dan optimisme terhadap ekonomi global pun meningkat sehingga menarik untuk dicermati apakah target 5,1 persen akan berhasil dicapai,” katanya.

Sebelumnya, Bank Indonesia mempertahankan kembali suku bunga acuan “7 Days Reverse Repo Rate” 4,25 persen untuk menjaga stabilitas perekonomian domestik di tengah masih derasnya tekanan ekonomi eksternal. Pada rapat triwulanan November 2017 di Jakarta, Kamis (16/11) malam, bank sentral juga mempertahankan suku bunga penyimpanan dana perbankan di BI (Deposit Facility) sebesar 3,5 persen dan suku bunga penyediaan likuiditas ke perbankan dari BI (Lending Facility) sebesar 5 persen.

“BI tetap mewaspadai sejumlah risiko baik yang berasal dari global seperti pengetatan kebijakan moneter maupun dari domestik, yakni pelemahan konsumsi rumah tangga dan intermediasi perbankan,” kata Gubernur BI Agus Martowardojo dalam jumpa pers setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG) triwulanan. Dalam RDG tersebut, BI menyimpulkan pemulihan ekonomi domestik terus berlanjut di sisa tahun seiring dengan meningkatnya prospek ekonomi global.