Pemerintah Jual Surat Utang Dolar dan Euro Sekaligus Tahun Depan

pt solid gold

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan kembali mewacanakan untuk menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) valuta asing (valas) dengan dua mata uang (dual currency) sekaligus.

Direktur Surat Utang Negara (SUN) Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Loto Srinatia Ginting mengatakan, wacana tersebut dilakukan usai berhasilnya proses penerbitan di tahun ini.

Lotto menuturkan, SBN ini dalam denominasi dolar Amerika Serikat (AS) dan euro. Adapun, rencananya dilakukan pada pertengahan tahun depan dengan mempertimbangkan kurs dolar lebih murah dibanding euro.

“Dari sisi cost sementara kami menilai euro relatif compare to US$,” kata Lotto di acara Investor Gathering 2017, Senin (18/12/2017).

Penerbitan SBN dual currency, kata Lotto, dalam rangka eksistensi instrumen yang disediakan pemerintah.

Diketahui, penerbitan SBN dual currency juga sebagai upaya pemerintah menutup defisit anggaran yang telah ditetapkan dalam APBN 2018 sebesar Rp 325,9 triliun atau 2,19% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Untuk strategi pembiayaan di 2018 untuk memenuhi pembiayaan pada tingkat biaya dan risiko yang optimal, mendukung pengembangan pasar keuangan, lalu meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan kebijakan pembiayaan.

Kebutuhan pembiayaan utang sebesar Rp 783,2 triliun di 2018, sebesar Rp 727,6 triliun atau 93% berasal dari SBN, sedangkan 7% sisanya atau Rp 55,8 triliun berasal dari pinjaman.

Jika dirinci kebutuhan pembiayaan utang yang sebesar Rp 783,2 triliun, sebesar Rp 586,6 triliun merupakan utang domestik atau 75% yang terdiri dari SBN domestik Rp 582,1 triliun, dan pinjaman dalam negeri Rp 4,5 triliun ditambah dengan SPN jatuh tempo 2018 sebesar Rp 119,0 triliun.

Sedangkan utang valas sebesar Rp 196,6 triliun atau 25% yang terdiri dari SBN valas sebesar Rp 145,3 triliun, dan pinjaman luar negeri Rp 51,3 triliun dengan mata uang dolar AS, yen Jepang, dan euro.

Pada tahun depan, direncanakan pula penerbitan SBN sebesar Rp 846,4 triliun, di mana SBN valas sebesar 20% dari bruto, lelang ON SUN sebesar 42%-44% dari SBN bruto, lelang ON SBSN sebesar 14%-16% dari SBN bruto, SPN tenor 3,9,12 bulan sebesar 14%-16% dari SBN bruto, dan SBN ritel sebesar 6%-8% dari SBN bruto.