Perusahaan Makin Memahami Manfaat IPO

pt solid gold

Go public atau membuka kesempatan masyarakat memiliki saham perusahaan di pasar modal kini makin digandrungi.

Terlihat dari banyaknya perusahaan yang antre menggelar hajatan penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Hingga akhir Maret 2018, terdapat empat perusahaan baru yang melantai di BEI. Jumlahnya akan terus bertambah, pasalnya saat ini BEI telah mengantongi sekitar 20 perusahaan yang berencana (pipeline) untuk IPO di tahun 2018 ini.

Direkur Penilaian Perusahaan BEI, Samsul Hidayat mengatakan antusiasme perusahaan melangsungkan IPO saham tahun ini lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Hal itu terutama pada semester I tahun ini.

Menurutnya fakta tingginya minat perusahaan melakukan IPO menunjukkan bahwa semakin banyak perusahaan telah memahami manfaat go public dan pencatatan saham di BEI bagi keberlangsungan atau eksistensi perusahaan pada masa yang akan datang.

Kesadaran perusahaan tersebut salah satunya merupakan buah dari upaya-upaya edukasi dan sosialisasi yang dilakukan BEI, termasuk mendirikan Pusat Informasi Go Public di seluruh Indonesia.

Selain itu dalam tiga tahun terakhir, BEI intens melakukan upaya pendekatan persuasif dan “jemput bola” dengan mendatangi perusahaan-perusahaan yang dianggap potensial untuk IPO.

Di samping itu proses dan mekanisme termasuk persyaratan pencatatan saham atau hal lain yang terkait kewenangan BEI terus dipermudah dan disederhanakan agar stigma terkait rumitnya proses IPO dan listing di BEI kini semakin menipis dan tidak menjadi penghalang perusahaan untuk menikmati manfaat menjadi perusahaan terbuka.

Sederet manfaat memang dapat diperoleh perusahaan tatkala menjadi perusahaan publik. Terutama perolehan dana segar dan akses pendanaan lainnya untuk modal kerja maupun ekspansi sebagai manfaat pertama.

Dengan menjual sebagian saham lewat IPO perusahaan akan mendapat dana dalam jumlah tertentu, tergantung jumlah saham yang dijual serta harga per lembar sahamnya.

Tak berhenti di situ, perusahaan publik akan makin mudah mengakses pendanaan perbankan, masuk ke pasar uang melalui penerbitan surat utang baik jangka pendek maupun jangka panjang serta penerbitan saham baru melalui right issue atau secondary offering di masa datang.

Manfaat kedua dapat memberikan competitive advantage untuk pengembangan usaha, artinya dengan menjadi perusahaan publik, perusahaan akan memperoleh banyak keunggulan kompetitif untuk pengembangan usaha di masa yang akan datang.

Contohnya, melalui IPO, perusahaan berkesempatan untuk mengajak partner kerjanya seperti supplier dan buyer untuk menjadi pemegang saham. Sebagai perusahaan publik, emiten dituntut oleh banyak pihak untuk dapat selalu meningkatkan kualitas kerja operasionalnya.

Ketiga, dimungkinkan melakukan merger atau akuisisi perusahaan lain dengan pembiayaan melalui penerbitan saham baru. Selama ini aksi korporasi itu cukup digandrungi untuk mempercepat pengembangan skala usaha perusahaan.

Keempat akan meningkatkan kemampuan going concern agar tetap dapat bertahan dalam kondisi apapun termasuk dalam kondisi yang dapat mengakibatkan bangkrutnya perusahaan.

Selanjutnya kelima, akan meningkatkan citra perusahaan, sebab dengan go public, suatu perusahaan akan selalu mendapat perhatian media dan komunitas keuangan. Artinya, perusahaan tersebut mendapat publikasi secara cuma-cuma sehingga dapat meningkatkan citranya.

Keenam, go public bisa meningkatkan nilai perusahaan karena saham perusahaan yang diperdagangkan di bursa tentu memiliki valuasi yang akan terus naik seiring meningkatnya kinerja operasional dan kinerja keuangan, umumnya akan memiliki dampak terhadap harga saham di bursa.

Tingginya antusiasme perusahaan melakukan IPO tahun ini membuat BEI optimistis target emiten baru yang ditetapkan dalam Rencana Kegiatan & Anggaran Tahunan (RKAT) 2018 sebanyak 35 perusahaan tercapai.

Selain IPO, penambahan emiten baru dimungkinkan dari perusahaan yang pernah keluar bursa (delisting) untuk kembali masuk bursa (re-listing) dan BEI akan menyambut perusahaan tersebut dengan tangan terbuka dengan catatan tetap sesuai ketentuan dan mekanisme yang berlaku.

Adapun terkait kondisi pasar yang tengah dilanda ketidakpastian lantaran faktor eksternal terutama kenaikan suku bunga Amerika Serikat serta kekhawatiran pemodal asing terkait ancaman perang dagang AS dengan Tiongkok diyakini tidak memengaruhi minat pemodal untuk membeli saham IPO yang ditawarkan. Pasalnya saat ini di BEI pemodal lokal sudah mendominasi aktivitas transaksi.

“Dana kelolaan di lembaga jasa keuangan, misalnya dana pensiun, kan bertambah dan mereka pasti tetap investasi,” kata Direktur BEI Tito Sulistio. Untuk itu BEI optimistis para investor akan menyerap saham IPO dengan catatan kinerja dan potensi bisnis calon emiten tersebut menarik bagi pemodal.