Rupiah Terdepresiasi Tipis, Mata Uang Asia Variatif

pt solid gold

Pergerakan nilai tukar rupiah berakhir terdepresiasi pada akhir perdagangan hari ini, Rabu (20/12/2017), saat mata uang lainnya di Asia bergerak variatif.

Rupiah ditutup melemah 0,02% atau 3 poin di Rp13.579 per dolar AS. Pagi tadi, rupiah dibuka dengan depresiasi 0,06% atau 8 poin di posisi 13.584, setelah pada perdagangan Selasa (19/12) mampu membukukan rebound 0,04% atau 5 poin di posisi 13.576.

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di kisaran Rp13.576 – Rp13.586 per dolar AS.

Dilansir Bloomberg, ukuran volatilitas rupiah naik untuk pertama kalinya dalam lima hari saat imbal hasil Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi mengurangi daya tarik aset Indonesia. Volatilitas tersirat dalam satu bulan untuk dolar AS terhadap rupiah naik menjadi 3,86.

“Prospek dari reformasi pajak AS yang akan segera terjadi serta data AS yang relatif kuat kemungkinan akan mendukung sedikit tawaran untuk dolar AS dan akan tetap seperti itu sampai akhir tahun, yang didorong lebih lanjut oleh kondisi tidak likuiditas pada pasar,” ujar Sook Mei Leong, kepala riset pasar global Asia Tenggara di Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ.

Sementara itu, mata uang lainnya di Asia terpantau bergerak variatif. Penguatan mata uang Asia di antaranya dibukukan won Korea Selatan dan renminbi China yang masing-masing menguat 0,36% dan 0,40%, berdasarkan data Bloomberg.

Di sisi lain, pelemahan pada mata uang Asia di antaranya dialami yen Jepang dan baht Thailand yang masing-masing terdepresiasi 0,25% dan 0,09%.

Adapun indeks dolar AS yang mengukur kekuatan kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama terpantau bergerak di zona hijau meski hanya dengan kenaikan 0,004 poin ke level 93,445 pada pukul 16.51 WIB.

Sebelumnya indeks dolar dibuka naik tipis 0,02% atau 0,020 poin di level 93,461, setelah pada Selasa (19/12) berakhir melemah 0,27% atau 0,254 poin di posisi 93,441.

Sentimen positif terhadap dolar mendapatkan dukungan dari prospek seputar kemajuan reformasi pajak di AS. Pengambilan suara yang dilakukan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS pada Selasa (19/12) waktu setempat menghasilkan persetujuan atas rancangan undang-undang perpajakan yang diusung Partai Republik.

Tak lama setelah DPR, anggota parlemen Senat AS yang dikuasai Partai Republik menyetujui sekaligus memberikan catatan revisi minor terhadap RUU Pajak AS yang baru. RUU tersebut sedianya akan kembali dibahas, direvisi, dan dilakukan jajak pendapat ulang kembali di DPR AS, sebelum diserahkan kepada Presiden Donald Trump untuk disahkan.